Tampilkan postingan dengan label Artikelku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikelku. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Agustus 2009
Soap Opera
Komedi Kamar Mandi
Indonesia menipu!
Kalimat tersebut kujumput pada suatu malam di warung angkring, di salah satu sudut Pakualaman, Jogja. Pernyataan nylekit itu terucap dari mulut seorang Prancis dengan tanpa sungkan, di sela-sela kunyahan jadah bakar. Teman yang sedang belajar bahasa Indonesia itu merasa ditipu melalui leaflet atau brosur promo tentang Indonesia. Dalam promo tersebut Indonesia digambarkan sebagai negara yang kental akan warna tradisional dan kehidupan budaya lokal. Kenyataannya?
Secara spesifik dia mengamati dari sisi acara televisi, karena laki-laki tersebut memang dosen di bidang media rekam. Maksudnya, kalau acara televisi kita, terutama di bidang entertainment, di-dubbing ke dalam bahasa Spanyol, jadilah televisi Spanyol, Meksiko, atau Venezuella. Kalau di-dubbing bahasa Inggris, jadilah televisi Amerika. Jadi, perbedaannya hanya dari sisi bahasa. Meskipun, kalau dikaji lebih lanjut, tidak jelas juga bahasa yang dianut bangsa entertainment televisi kita. Indonesia, bukan. Inggris, bukan. Betawi, bukan. Dari sisi ras pemain demikian juga. Indonesia, bukan. Amerika, bukan. Arab, bukan. India, bukan. Dari sisi kemasan acara membingungkan juga. Di bidang eskalator menuju dunia bintang angan-angan demikian juga: American Idol, Indonesian Idol, AFI, dan seabreg keinstanan yang lain. Acara ngrasani demikian juga. Mode pakaian, tak jelas juga. Bahkan dari penamaan stasiun televisi membingungkan juga.
Namanya juga televisi dunia angan. Maka jangan heran kalau kita kesulitan mengkaji makna yang terkandung di dalam nama stasiun televisi kita, misalnya Rajawali Citra Televisi Indonesia, Surya Citra Televisi, Indosiar, Global TV, Metro TV, AnTV, dan seterusnya. Mungkin maksud mereka Televisi Citra Rajawali Indonesia, yaitu televisi yang dicitrakan sebagai rajawali Indonesia. Sosok perkasa yang terbang melayang-melayang menguasai wilayah Indonesia. Mungkin maksud mereka Televisi Citra Surya, yaitu televisi yang dicitrakan sebagai matahari. Acara televisi stasiun tersebut menyinari dan menerangi. Mungkin maksud mereka Siaran Indo, TV Metro, TV An.
Konstruksi frasa yang lazim digunakan di dalam bahasa Indonesia, yaitu D-M (Diterangkan-Menerangkan) tidak mereka pakai. Mereka lebih suka konstruksi frasa yang lazim digunakan dalam bahasa Inggris, yaitu M-D (Menerangkan-Diterangkan). Mungkin mereka terbiasa menyebut ‘biru sepatu’ dan bukan ‘sepatu biru’.
Dalam konteks ini masih ada stasiun televisi yang namanya mudah dikaji maknanya, misalnya TVRI, TPI, dan TV7. Konstruksi frasa nama tersebut lazim dipakai di dalam bahasa Indonesia:Televisi Republik Indonesia (televisi milik Republik Indonesia), Televisi Pendidikan Indonesia (televisi yang berisi pendidikan Indonesia?), Televisi 7 (televisi bermerek 7).
Meskipun mereka bisa berkilah bahwa pemberian nama itu arbitrer (semena-mena), tetapi aromanya jelas sekali bahwa penamaan tersebut tidak bertumpu kepada kesemena-menaan, tetapi strategi dagang. Konon nama berbau Amerika lebih menjanjikan dibanding Indonesia. Hamburger lebih popular dibanding lemper.
Kita kembali ke warung angkring menemui sahabatku yang sejak tadi masih bersungut-sungut. Untuk menghiburnya, aku bercerita tentang Jogja era 70-an. Aku dan teman-temanku, dengan berselempang sarung, pada sore hari berangkat ke THR (Taman Hiburan Rakyat, sekarang menjadi Purawisata) untuk nonton acara televisi umum hitam putih. Saat itu tidak sembarang orang punya televisi, meskipun hanya hitam putih. Acara televisi dimulai pukul lima sore hingga dua belas malam. Stasiun televisi pun hanya ada TVRI. Acara yang paling ditunggu-tunggu Kethoprak, Album Minggu Ini, Film Akhir Pekan, Mannix, Rin Tin Tin, Bonanza, dan Kuncung lan Bawuk. Di antara acara ini, bagi masyarakat Jogja kelihatannya yang sangat disukai adalah Kethoprak dan Kuncung lan Bawuk; dua acara yang berpijak pada konsep budaya lokal.
Tetapi sekarang, seperti halnya bidang lain, hegemoni Amerika akhirnya merambah bidang pertelevisian juga. Tahun 1980-an, Jack Lang, Menteri Kebudayaan Prancis mengingatkan dengan keras, “Simbol imperialisme budaya,” ketika opera sabun Amerika menerobos Eropa.
Opera sabun merupakan perpanjangan kisah-kisah radio Amerika tahun 50-an dan roman Harlequin, komedi Italia. Bahkan di Amerika delapan puluh persen lebih acara televisi berjenis soap opera. Ke Indonesia mereka mengusung Dallas dan Dynasti. Dari Australia kita menerima The Bold and The Beautiful. Dari Meksiko, Venezuella, dan Spanyol, kita menyerap telenovella. Dari India kita menerima konsep drama yang ekstrim klise, mutlak hitam-putih mengharu biru. Semuanya itu soap opera. Diberi nama soap opera, karena konon, iklan yang mendominasi acara tersebut hanya seputar sabun atau kamar mandi: dari sabun mandi, sabun cuci, sampo, pasta gigi. Lebih jauh iklan yang menghiasi adalah teman-teman perangkat kamar mandi tersebut: pengharum kamar mandi, pengharum ruangan, minyak wangi, perangkat dapur, kosmetik, obat antinyamuk, sampai pembalut wanita. Pokoknya barang-barang yang menjadi perhatian kaum ibu.
Secara strategi dagang tidak salah kalau mereka membidik kaum wanita untuk dimanjakan pada jam kerja dan prime time (jam tayang utama sekitar pukul 19.00 sampai 21.30). Hal ini karena pada umumnya memang kaum wanitalah yang berkaitan dengan urusan belanja. Oleh karena itu jangan heran kalau opera sabun berkutat tentang wanita. Bahkan judul-judulnya pun wanita: Maria Mercedes, Marimar, Cassandra, Paulina, Rosalinda. Kita pun ikut-ikutan: Mutiara, Marisa, Mentari, Cahaya, Indah, Fitri, Chelsea, Jelita, Candy, Cinderella.
Konon, bertumpu pada karakter wanita itulah maka opera sabun yang di Indonesia diganti menjadi sinetron lebih mengutamakan cerita yang ekstrim dramatis mengharu biru. Wilayah penyerangan di zona perasaan. Bukan logika maupun kajian sinematografi sebagai seni. Garin Nugroho menyebutkan bahwa tokoh dalam opera sabun merupakan perwujudan boneka mainan sejak kecil yang dipajang mewah di toko-toko: mata biru, kulit putih, hidung mancung, rambut kemilau, bibir merah. Karena dipajang, siapa pun bisa menikmati dan mendambakan untuk memiliki boneka mahal tersebut. Dari kalangan kaya sampai jembel jelata.
Jangan terpingkal-pingkal kalau melihat busana, model rambut, maupun make up pemain sinetron. Maksud mereka tidak melucu tapi jadinya malah lelucon. Pakaian sekolah menggelikan. Rambut dan make up siswa membikin ngakak. Maksudku, pemandangan di sekolah bangsa sinetron lebih mirip perayaan halloween.. Ada siswa berpura-pura jadi orang yang baru bangun tidur. Rambut awut-awutan. Ada yang berpura-pura jadi tukang cat tembok, sehingga rambutnya belepotan cat. Ada yang berpura-pura baru keluar dari kamar mandi, sehingga rambutnya selalu kelihatan basah. Ada yang berpura-pura sebagai Napoleon Bonaparte, sehingga celananya ketat sekali. Sebaliknya ada yang juga yang berperan sebagai Ali Baba, celana kombor. Ada yang berpura-pura sebagai narapidana, sehingga ke mana-mana digayuti rantai. Ada siswi yang berperan sebagai Winnie the Pooh, sehingga kaos atau bajunya sangat ngampret, tidak sampai pinggang. Ada yang berperan sebagai orang miskin, tak cukup uang untuk beli rok, sehingga rok TK dipakai terus sampai SMA. Ada yang berperan sebagai pemain kabuki (drama Jepang), sehingga – baik laki-laki maupun perempuan – wajah mereka berbedak tebal dan berlipstik.
Selain kekonyolan tersebut, berlaku juga rumus lelucon dalam bangsa sinetron. Rumus yang berlaku adalah R = - L. Maksudnya, Rating (acara yang disukai) adalah acara yang minus Logika. Penonton televisi Indonesia adalah masyarakat yang tidak suka logika. Yang penting sederhana dan instan. Mereka suka kalau adegan berikutnya maupun akhir cerita seperti yang mereka harapkan.
Cerita tentang sekolah berarti kisah tentang ketololan cinta. Tidak ada permasalahan kemanusiaan maupun pendidikan yang mendalam. Adegan sebagian besar tidak di kelas, tetapi di kantin dan lorong antarkelas. Tokoh utama protagonis biasanya pandai di bidang akademik dan bintang olahraga, basket misalnya. Sosok guru digambarkan secara hiperbolis tetapi menggelikan. Dalam kelompok siswa ada yang dijadikan badut dan bahan olok-olokan, biasanya gendut dan makannya banyak. Ada yang menjadi kutu buku dan diwujudkan dalam sosok rambut lurus berbelah pinggir, berkaca mata tebal, tetapi malah terkesan blo’on. Pembantu rumah tangga berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta. Maklum, orang Betawi biasanya tidak menganggap DKI sebagai bagian dari Jawa. Mungkin DKI berada di pulau yang tak terdeteksi di dalam peta. Nama pembantu biasanya the old Javanese fashioned name. Misalnya, Inem, Paijo, Bejo, Iyem, Mbok, dan Iyah. Terkesan ada pelecehan suku. Bangsa sinetron itu lupa bahwa orang penting Indonesia banyak berasal dari Jawa. Bahkan presiden Indonesia semua berasal dari Jawa, kecuali Habibie sebagai presiden masa transisi, tanpa proses pemilihan. Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Megawati, SBY, dari Jawa.
Di dalam kotak kaca impian itu semuanya jadi sederhana, klise, stereotip, hitam putih belaka. Watak manusia hanya ada dua: keterlaluan baik dan kebangeten jelek. Tokoh utama protagonis adalah wanita miskin yang dikuya-kuya, tetapi cantik dan sama sekali tidak kelihatan miskin. Bahkan penampilannya malah kelihatan lebih kaya dibanding juragannya. Hal ini tampak dari kulitnya yang tampak bukan kulit pekerja kasar, tetapi kulit tak pernah tercium matahari. Tokoh antagonis adalah sosok wanita cerewet yang perannya hanya mencaci maki. Oleh karenanya, konflik fisik yang disusun sebagian besar adalah konflik caci maki. Jadi direktur perusahaan sangat gampang, terbukti masih berusia sekitar 20 - 30-an sudah menjabat pemimpin perusahaan. Tetapi urusannya bukan strategi bisnis, melainkan cinta. Dalam kisah cinta segitiga, karena buntu dalam mengakhiri cerita, salah satu tokoh dimatikan, misalnya tiba-tiba ketabrak mobil. Penonton terharu, habis perkara. Setelah memenangkan perkelahian, sosok hero pujaan penonton biasanya ditampilkan dengan wajah berluka, tetapi lukanya berupa goresan atau memar samar-samar di dahi, pipi, atau samping bibir, sehingga kelihatan lebih macho. Mungkin penjahatnya memilih memukul bagian tersebut. Padahal dalam perkelahian bisa saja mulut jadi monyong, seputar mata benjol, dan gigi ompong. Pemerkosa juga tampak tolol. Sama sekali tidak tahu ilmu anatomi tubuh. Yang dilakukan hanya mengguncang-guncang pundak korban. Padahal pundak bukan bagian lemah. Akhirnya karena perkosaan itu bertele-tele, terlalu lama tak membuahkan hasil, datanglah sosok hero yang menghajar pemerkosa tolol nan sial tersebut.
Selain seputar pembodohan budaya di atas, materi sinetron lainnya didominasi dua materi. Pertama, seputar hantu yang tidak menakutkan, tetapi menjijikkan. Kedua, khurafat, takhayul, dan bid’ah yang berkedok agama Islam. Padahal cerita tersebut malah merusak akidah Islam.
Lamunan berisi kejengkelanku buyar ketika teman Prancisku tadi bertanya, “Apakah opera sabun di televisi Indonesia merupakan cerminan bangsa Indonesia?”
“Ya. Episode-episode dalam sinetron merupakan miniklimaks-miniklimaks. Tak pernah selesai. Sebuah cerita boleh selesai, tetapi akan diteruskan dengan cerita berfilusufi sama dalam judul lain. Demikian seterusnya. Dan ini merupakan cerminan kisah bangsa Indonesia. Tahun demi tahun berganti. Tokoh demi tokoh berganti. Kebijakan demi kebijakan berganti. Tetapi ceritanya masih tetap sama.*** epeha
Rabu, 29 Juli 2009
Guru
Di dalam bilik-bilik kelas anak-anak tak berwajah duduk tegak. Mereka serempak berteriak menirukan apa yang telah dilafalkan guru mereka, “We don’t need no education! We don’t need no close control!” Selanjutnya pasukan tegak dingin ini berdiri berurutan di atas eskalator yang membawa mereka memasuki mesin pelumat raksasa.
Demikianlah sejumput adegan videoclip The Wall Pink Floyd.
Satire yang dilantunkan David Gillmour dan konco-konconya ini memang menjadi masterpiece mereka. Sebuah refleksi natural manusiawi yang gaungnya selayaknya mampu menggedor dinding-dinding kaum pemikir pendidikan.
Apa boleh buat, pendidikan – bukan persekolahan – memang paling asyik untuk dikasak-kusuki. Karena, bagaimanapun, adanya dunia seperti sekarang adalah produk pendidikan. Sehingga amat wajar jika ada yang menggerutu, “Sungguh nonsense reformasi di Indonesia ini jika tidak dimulai dari reformasi pendidikan.”
Reformasi, ya, pembentukan kembali. Hanya sayangnya kata ‘kembali’ ini sekarang menjadi bias. Kata sederhana nan indah ini menjadi rumit. Kian diotak-atik, kian ruwet. Kita pun terengah-engah tanpa tahu jalan kembali di dalam labyrinth buatan kita sendiri. Sambil terengah-engah tanpa tahu jalan pulang – atau memang tidak ingin pulang? – kadang-kadang kita berpikir, agar terampil perlu keterampilan proses, lha kok smart solution soal pilihan ganda. Katanya otonomi, lha kok penyeragaman. Katanya hanya salah satu bagian alat pendidikan, lha kok menjadi tujuan pendidikan. Katanya bangsa yang menjunjung tinggi seni budaya, tetapi seberapa besar pikiran dan dana tercurah untuk bidang ini jika dibandingkan untuk bidang yang lain. Dan masih banyak paradoksitas yang lumrah muncul dalam pemikiran. Yah, konon kabarnya eksistensi manusia berpendidikan dimulai dari daya melitnya.
Kembali, ya, kembali. Mungkin ada baiknya istirah sejenak di bawah pohon rindang di samping kali kemericik sambil menikmati kicau burung papasan dan membayangkan para guru kita dahulu, misalnya, Zoroaster, Kong Hu Chu, Budha, Mahavira, Isa, Muhammad, Sunan Kalijaga, Mohandas Gandhi, dan Ibu Theresia. Mereka adalah pendidik sejati. Meskipun terhijab oleh ruang dan waktu, plot pendidikan mereka sama: berpijak pada ketulusan, metode kesatuan antara akal, seni, kasih sayang, dengan tujuan pendidikan: ketenteraman hati dalam bingkai kemanusiaan. Sepertinya tak ada target pendidikan lain yang melebihi target tersebut. Mereka adalah agen perubahan. Di bawah pohon yang rindang, beralas rerumputan, guru dan murid-murid tak beralas kaki itu berkolaborasi. Mereka mengukir, tidak menyihir.
Perubahan tidak berarti mutant tetapi kembali menuju hakikat manusia. Kalau pendidikan hanya dipandang dari sudut industri, esok pagi para pengambil keputusan di bidang pendidikan bisa merumahkan guru. Karena pengerahan guru selama ini ternyata tidak efektif dan sekadar penghambur-hamburan. Lebih baik membuka bimbingan belajar untuk menghadapi UAN, kursus komputer, bahasa Inggris, menjahit, bengkel, dan montir, misalnya. Alokasi waktu dan dana jauh lebih sedikit dibanding sekolah formal, tetapi output keterampilannya dijamin andal. Apalagi jika semua sudah serba-cyber, murid tidak lagi membutuhkan manusia. Anak-anak cukup berinteraksi dan bercanda dengan skrup, kabel, IC, microchip, dan perangkat sejenisnya. Tak perlu kasih sayang dan apresiasi terhadap sesama.
Kalau tidak, sejarah selalu berulang. Formasi otoritas pendidikan sering salah menafsirkan kepandaian, kepiawaian, bahkan nasib sesorang. Otoritas ini pernah menyepak Thomas Alva Edison keluar dari sekolah, karena menganggap anak genius ini luar biasa dungunya. Praktis hanya tiga bulan anak ini menikmati pendidikan formal. Jadi, tidaklah terlalu mengherankan kalau Thomas kecil melakukan eksperimen sendiri. Dia menduga bahwa telur menetas karena suhu yang hangat. Dan ibunya pun kaget, anak imut ini mengerami telur ayam. Hasil dari daya melitnya, sebelum usianya menyentuh 35 tahun dia sudah kesohor. Dari kejeniusannya lahir 1.093 barang baru buat orang sezamannya.
Di Italia ‘otoritas pendidikan’ juga memakan korban. Kali itu korbannya Galileo Galilei. Ilmuwan kondang yang putus kuliah karena miskin itu dipenjarakan di rumahnya sendiri karena teorinya bertentangan dengan teori yang dianut ‘otoritas’ meskipun sekarang orang bisa membuktikan teori mana yang benar. Amatlah beralasan kalau generasi berikutnya para pelaku pendidikan membaptis ilmuwan kelahiran Pisa ini sebagai simbol pemberontakan terhadap dogma dan kekuasaan otoriter yang membelenggu kemerdekaan berpikir.
Nun jauh di belahan anak benua sana sejarah setali tiga uang. Kali itu yang tertimpa adalah Rabindranath Tagore. Semasa kanak dia menyebut sekolah sebagai “siksaan yang tak tertahankan.” Tak heran bila pada usia tiga belas tahun dia berhenti menjadi siswa dan beralih menjadi penyair, kemudian menjadi pemikir India paling kesohor hingga detik ini: orang Asia pertama yang mendapatkan hadiah Nobel untuk kesusastraan. Tahun 1924 dia berbicara di depan para guru di Tiongkok, “Sering aku hitung tahun-tahun yang harus kujalani sebelum aku memperoleh kemerdekaanku. Aku membayangkan sihir gaib yang mampu mengubahku serta-merta menjadi dewasa. Baginya, sekolah seperti ruang tunggu yang pengap, sebelum seorang anak boleh pergi setelah dianggap ‘jadi’.
Ketiga anak tersebut mungkin hanya salah tiga anak di antara miliaran anak lain yang memiliki beban psikologis sehubungan dengan pendidikan. Saat ini mungkin mereka hidup lagi di kelas kita. Mereka bertanya, menyapa, menyalami, dan matanya menebar kasih sayang. Bahkan tidak jarang kita dapat banyak pengetahuan dari mereka. Anak-anak surga menebar itu semua dengan tulus. Mereka tidak perlu teori etika dan adab yang njlimet. Cukup satu kata: ketulusan. Mereka langsung bisa menerjemahkan dan mempraktikkan. Berbekal kata sederhana ini mungkin akan kita jelang masa emas pendidikan sepeti masa lalu. Di pagi hari, di ujung gang anak-anak menanti, berebut menyalami, berebut membawakan tas, dan berebut menuntunkan sepeda onthel kita.
Kembali, di bawah pohon rindang di samping kali kemericik sambil menikmati kicau burung papasan, dunia pendidikan jadi sangat simpel. Pendidikan dalam rangka memanusiakan. Pendidikan semacam katarsis mengasyikkan untuk menuju pembebasan. Pendidikan adalah pembuka jendela bagi murid. Guru tidak sekadar membisikkan definisi hangatnya cahaya matahari. Tetapi, biarkan murid sendiri yang menghirup segarnya udara, merasakan hangatnya sinar, bahkan menerjemahkan hakikat sinar tersebut.***
Demikianlah sejumput adegan videoclip The Wall Pink Floyd.
Satire yang dilantunkan David Gillmour dan konco-konconya ini memang menjadi masterpiece mereka. Sebuah refleksi natural manusiawi yang gaungnya selayaknya mampu menggedor dinding-dinding kaum pemikir pendidikan.
Apa boleh buat, pendidikan – bukan persekolahan – memang paling asyik untuk dikasak-kusuki. Karena, bagaimanapun, adanya dunia seperti sekarang adalah produk pendidikan. Sehingga amat wajar jika ada yang menggerutu, “Sungguh nonsense reformasi di Indonesia ini jika tidak dimulai dari reformasi pendidikan.”
Reformasi, ya, pembentukan kembali. Hanya sayangnya kata ‘kembali’ ini sekarang menjadi bias. Kata sederhana nan indah ini menjadi rumit. Kian diotak-atik, kian ruwet. Kita pun terengah-engah tanpa tahu jalan kembali di dalam labyrinth buatan kita sendiri. Sambil terengah-engah tanpa tahu jalan pulang – atau memang tidak ingin pulang? – kadang-kadang kita berpikir, agar terampil perlu keterampilan proses, lha kok smart solution soal pilihan ganda. Katanya otonomi, lha kok penyeragaman. Katanya hanya salah satu bagian alat pendidikan, lha kok menjadi tujuan pendidikan. Katanya bangsa yang menjunjung tinggi seni budaya, tetapi seberapa besar pikiran dan dana tercurah untuk bidang ini jika dibandingkan untuk bidang yang lain. Dan masih banyak paradoksitas yang lumrah muncul dalam pemikiran. Yah, konon kabarnya eksistensi manusia berpendidikan dimulai dari daya melitnya.
Kembali, ya, kembali. Mungkin ada baiknya istirah sejenak di bawah pohon rindang di samping kali kemericik sambil menikmati kicau burung papasan dan membayangkan para guru kita dahulu, misalnya, Zoroaster, Kong Hu Chu, Budha, Mahavira, Isa, Muhammad, Sunan Kalijaga, Mohandas Gandhi, dan Ibu Theresia. Mereka adalah pendidik sejati. Meskipun terhijab oleh ruang dan waktu, plot pendidikan mereka sama: berpijak pada ketulusan, metode kesatuan antara akal, seni, kasih sayang, dengan tujuan pendidikan: ketenteraman hati dalam bingkai kemanusiaan. Sepertinya tak ada target pendidikan lain yang melebihi target tersebut. Mereka adalah agen perubahan. Di bawah pohon yang rindang, beralas rerumputan, guru dan murid-murid tak beralas kaki itu berkolaborasi. Mereka mengukir, tidak menyihir.
Perubahan tidak berarti mutant tetapi kembali menuju hakikat manusia. Kalau pendidikan hanya dipandang dari sudut industri, esok pagi para pengambil keputusan di bidang pendidikan bisa merumahkan guru. Karena pengerahan guru selama ini ternyata tidak efektif dan sekadar penghambur-hamburan. Lebih baik membuka bimbingan belajar untuk menghadapi UAN, kursus komputer, bahasa Inggris, menjahit, bengkel, dan montir, misalnya. Alokasi waktu dan dana jauh lebih sedikit dibanding sekolah formal, tetapi output keterampilannya dijamin andal. Apalagi jika semua sudah serba-cyber, murid tidak lagi membutuhkan manusia. Anak-anak cukup berinteraksi dan bercanda dengan skrup, kabel, IC, microchip, dan perangkat sejenisnya. Tak perlu kasih sayang dan apresiasi terhadap sesama.
Kalau tidak, sejarah selalu berulang. Formasi otoritas pendidikan sering salah menafsirkan kepandaian, kepiawaian, bahkan nasib sesorang. Otoritas ini pernah menyepak Thomas Alva Edison keluar dari sekolah, karena menganggap anak genius ini luar biasa dungunya. Praktis hanya tiga bulan anak ini menikmati pendidikan formal. Jadi, tidaklah terlalu mengherankan kalau Thomas kecil melakukan eksperimen sendiri. Dia menduga bahwa telur menetas karena suhu yang hangat. Dan ibunya pun kaget, anak imut ini mengerami telur ayam. Hasil dari daya melitnya, sebelum usianya menyentuh 35 tahun dia sudah kesohor. Dari kejeniusannya lahir 1.093 barang baru buat orang sezamannya.
Di Italia ‘otoritas pendidikan’ juga memakan korban. Kali itu korbannya Galileo Galilei. Ilmuwan kondang yang putus kuliah karena miskin itu dipenjarakan di rumahnya sendiri karena teorinya bertentangan dengan teori yang dianut ‘otoritas’ meskipun sekarang orang bisa membuktikan teori mana yang benar. Amatlah beralasan kalau generasi berikutnya para pelaku pendidikan membaptis ilmuwan kelahiran Pisa ini sebagai simbol pemberontakan terhadap dogma dan kekuasaan otoriter yang membelenggu kemerdekaan berpikir.
Nun jauh di belahan anak benua sana sejarah setali tiga uang. Kali itu yang tertimpa adalah Rabindranath Tagore. Semasa kanak dia menyebut sekolah sebagai “siksaan yang tak tertahankan.” Tak heran bila pada usia tiga belas tahun dia berhenti menjadi siswa dan beralih menjadi penyair, kemudian menjadi pemikir India paling kesohor hingga detik ini: orang Asia pertama yang mendapatkan hadiah Nobel untuk kesusastraan. Tahun 1924 dia berbicara di depan para guru di Tiongkok, “Sering aku hitung tahun-tahun yang harus kujalani sebelum aku memperoleh kemerdekaanku. Aku membayangkan sihir gaib yang mampu mengubahku serta-merta menjadi dewasa. Baginya, sekolah seperti ruang tunggu yang pengap, sebelum seorang anak boleh pergi setelah dianggap ‘jadi’.
Ketiga anak tersebut mungkin hanya salah tiga anak di antara miliaran anak lain yang memiliki beban psikologis sehubungan dengan pendidikan. Saat ini mungkin mereka hidup lagi di kelas kita. Mereka bertanya, menyapa, menyalami, dan matanya menebar kasih sayang. Bahkan tidak jarang kita dapat banyak pengetahuan dari mereka. Anak-anak surga menebar itu semua dengan tulus. Mereka tidak perlu teori etika dan adab yang njlimet. Cukup satu kata: ketulusan. Mereka langsung bisa menerjemahkan dan mempraktikkan. Berbekal kata sederhana ini mungkin akan kita jelang masa emas pendidikan sepeti masa lalu. Di pagi hari, di ujung gang anak-anak menanti, berebut menyalami, berebut membawakan tas, dan berebut menuntunkan sepeda onthel kita.
Kembali, di bawah pohon rindang di samping kali kemericik sambil menikmati kicau burung papasan, dunia pendidikan jadi sangat simpel. Pendidikan dalam rangka memanusiakan. Pendidikan semacam katarsis mengasyikkan untuk menuju pembebasan. Pendidikan adalah pembuka jendela bagi murid. Guru tidak sekadar membisikkan definisi hangatnya cahaya matahari. Tetapi, biarkan murid sendiri yang menghirup segarnya udara, merasakan hangatnya sinar, bahkan menerjemahkan hakikat sinar tersebut.***
Anak-anak Multimedia
Anak-anak Multimedia
(Sebuah potongan cerita yang lepas )
Dalam hidup ini
banyak hal dapat menunggu
Tidaklah demikian dengan sang anak
Kepadanya “hari esok” tak da-pat kaukatakan
Ia hanya mengerti satu perka-taan saja:
“Hari ini.”
(Gabriella Mistra)
Tak dipungkiri, puisi karya penyair Chili di atas memang mencerminkan karakter universal anak: “diktator” kecil yang manis dan imut.
Meskipun demikian kecenderungannya sekarang, demi anak orang tua bisa berbuat apa saja. Bahkan saking sayangnya, dengan alasan untuk mempersiapkan anak dalam bergulat melawan kekejaman dunia, sejak dini orang tua sudah membekali lengkap segenap sarana-prasarana plus skenarionya. Sehingga, sering tanpa sadar anak pun tercerabut dari jatidirinya. Tidak lagi seperti yang disyairkan oleh Gabriella Mistra di atas. Anak sekadar aktor dalam cerita lepas tak berjuntrung dan tak tahu mengapa harus memainkan peran tersebut.
Orang tua pun sadar sepenuhnya bahwa di era sekarang, teknologi plus asessori multimedianya merupa-kan senjata ampuh untuk menaklukkan dunia. Sehingga dengan alasan tersebut orang tua banyak yang tergopoh-gopoh memakaikan perlengkapan tersebut ke tubuh anak sebagai senjata sekaligus pertahanan yang ampuh.
Dalam konteks masya-rakat yang memang sudah total memasuki era teknologi multimedia, baik mental, sosial, mau-pun budaya hal ini tidak menjadi masalah. Tapi dalam konteks masyarakat kita yang serba nanggung dan terbata-bata dalam membaca teknologi hal ini bisa menjadi masalah jika tidak dipersiapkan pijakannya. Pijakan yang dimaksud di sini adalah mental, sosial, dan buda-yanya.
Berkaitan dengan hal tersebut mungkin layak kita sitirkan tulisan Garin Nugroho:
Mereka hidup di dunia tumpang tindih, berhadapan dengan produk dari berbagai fase yang sering tidak selesai, dari pra-modern, modern, hingga pasca-modern: Inilah anak-anak yang lahir, hidup, dan menikmati revolusi interaktif multimedia.
Pernyataan Garin terse-but sesuai dengan ungkapan banyak kalangan tentang anak kita: anak instan. Tinggal pakai. Mereka tidak dibimbing menuju keterampilan prosesnya dan tidak jelas untuk apa itu semua. Pokoknya, seusai sekolah, mengikuti les, pulang, kunci kamar, dan masuk ke dunia teknologi multimedia.
Jangan anggap remeh dunia teknologi multimedia. Di sini semua tersedia. Bahkan seisi jagat bisa terdapat di dalam dunia canggih tersebut. Dari ilmu pengetahuan, hiburan, pernik-pernik manusia, baik yang romantis maupun berdarah-darah. Dalam komputer multi-media, misalnya, anak bisa turut dalam jalinan cinta kasih, berkelit dari serangan lawan, bahkan dapat menghajar dan membunuh lawan. Bagi mereka, itu semua perkara sederhana.
Sayangnya, itu semua virtual belaka. Maya. Sebuah dunia tanpa daging, darah dan hati nurani. Akibatnya, dalam dunia yang nyata mereka bisa terperangah. Kekejaman, perkelahian, keroyokan (baca: kepe-ngecutan), dan tawuran dalam konteks yang sebenarnya ter-nyata eksesnya tidak sesederhana episode Virtual Fighter maupun Warcraft. Rasa takut, cemas, dan nyeri ternyata memang ada. Nyawa ternyata bisa melayang hanya dikarenakan perkara sangat sepele.
Lantas, apakah teknologi merupakan dosa? Tidak! Teknologi harus dikuasai. Teknologi canggih harus berada di dalam genggaman. Bukan sebaliknya, kita malah seperti anak kecil di belantara pedalaman yang melihat mobil-mobilan, terperangah, terheran-heran, mengagung-agungkan, dan ber-sujud di hadapan tuhan kecil bernama teknologi canggih. Dengan kata lain, penalarannya harus dibenahi, yaitu, ternyata, teknologi hanya merupakan salah satu alat bantu untuk meraih dunia yang manusiawi. Di sini ada hati, darah, daging, cemas, takut, kecewa, bahagia, toleransi, dan tentunya ada cinta.***
Purnomo E Hudoyo
(Sebuah potongan cerita yang lepas )
Dalam hidup ini
banyak hal dapat menunggu
Tidaklah demikian dengan sang anak
Kepadanya “hari esok” tak da-pat kaukatakan
Ia hanya mengerti satu perka-taan saja:
“Hari ini.”
(Gabriella Mistra)
Tak dipungkiri, puisi karya penyair Chili di atas memang mencerminkan karakter universal anak: “diktator” kecil yang manis dan imut.
Meskipun demikian kecenderungannya sekarang, demi anak orang tua bisa berbuat apa saja. Bahkan saking sayangnya, dengan alasan untuk mempersiapkan anak dalam bergulat melawan kekejaman dunia, sejak dini orang tua sudah membekali lengkap segenap sarana-prasarana plus skenarionya. Sehingga, sering tanpa sadar anak pun tercerabut dari jatidirinya. Tidak lagi seperti yang disyairkan oleh Gabriella Mistra di atas. Anak sekadar aktor dalam cerita lepas tak berjuntrung dan tak tahu mengapa harus memainkan peran tersebut.
Orang tua pun sadar sepenuhnya bahwa di era sekarang, teknologi plus asessori multimedianya merupa-kan senjata ampuh untuk menaklukkan dunia. Sehingga dengan alasan tersebut orang tua banyak yang tergopoh-gopoh memakaikan perlengkapan tersebut ke tubuh anak sebagai senjata sekaligus pertahanan yang ampuh.
Dalam konteks masya-rakat yang memang sudah total memasuki era teknologi multimedia, baik mental, sosial, mau-pun budaya hal ini tidak menjadi masalah. Tapi dalam konteks masyarakat kita yang serba nanggung dan terbata-bata dalam membaca teknologi hal ini bisa menjadi masalah jika tidak dipersiapkan pijakannya. Pijakan yang dimaksud di sini adalah mental, sosial, dan buda-yanya.
Berkaitan dengan hal tersebut mungkin layak kita sitirkan tulisan Garin Nugroho:
Mereka hidup di dunia tumpang tindih, berhadapan dengan produk dari berbagai fase yang sering tidak selesai, dari pra-modern, modern, hingga pasca-modern: Inilah anak-anak yang lahir, hidup, dan menikmati revolusi interaktif multimedia.
Pernyataan Garin terse-but sesuai dengan ungkapan banyak kalangan tentang anak kita: anak instan. Tinggal pakai. Mereka tidak dibimbing menuju keterampilan prosesnya dan tidak jelas untuk apa itu semua. Pokoknya, seusai sekolah, mengikuti les, pulang, kunci kamar, dan masuk ke dunia teknologi multimedia.
Jangan anggap remeh dunia teknologi multimedia. Di sini semua tersedia. Bahkan seisi jagat bisa terdapat di dalam dunia canggih tersebut. Dari ilmu pengetahuan, hiburan, pernik-pernik manusia, baik yang romantis maupun berdarah-darah. Dalam komputer multi-media, misalnya, anak bisa turut dalam jalinan cinta kasih, berkelit dari serangan lawan, bahkan dapat menghajar dan membunuh lawan. Bagi mereka, itu semua perkara sederhana.
Sayangnya, itu semua virtual belaka. Maya. Sebuah dunia tanpa daging, darah dan hati nurani. Akibatnya, dalam dunia yang nyata mereka bisa terperangah. Kekejaman, perkelahian, keroyokan (baca: kepe-ngecutan), dan tawuran dalam konteks yang sebenarnya ter-nyata eksesnya tidak sesederhana episode Virtual Fighter maupun Warcraft. Rasa takut, cemas, dan nyeri ternyata memang ada. Nyawa ternyata bisa melayang hanya dikarenakan perkara sangat sepele.
Lantas, apakah teknologi merupakan dosa? Tidak! Teknologi harus dikuasai. Teknologi canggih harus berada di dalam genggaman. Bukan sebaliknya, kita malah seperti anak kecil di belantara pedalaman yang melihat mobil-mobilan, terperangah, terheran-heran, mengagung-agungkan, dan ber-sujud di hadapan tuhan kecil bernama teknologi canggih. Dengan kata lain, penalarannya harus dibenahi, yaitu, ternyata, teknologi hanya merupakan salah satu alat bantu untuk meraih dunia yang manusiawi. Di sini ada hati, darah, daging, cemas, takut, kecewa, bahagia, toleransi, dan tentunya ada cinta.***
Purnomo E Hudoyo
Sabtu, 04 Juli 2009
Komik Indonesia
Apakah komik Indonesia sudah merdeka?
Belum.
Komik Indonesia masih di bawah cengkeram dominasi manga. Penjajahan manga ke dalam selera komik bangsa Indonesia sungguh sangat dahsyat. Kedahsyatan ini dikarenakan wabah manga terutama menyerang anak-anak dan remaja. Kalau sejak anak-anak sudah terdoktrin bahwa seni komik yang bagus itu adalah manga, maka sampai tua orang tersebut akan menganggap bahwa yang namanya komik itu adalah manga. Komik itu berarti gambar manusia yang matanya besar, bulu mata lentik, hidung mancung, pipi ranum, badannya tinggi, ramping, pakaian modis, dan kalau menangis air matanya seperti air terjun, Pokoknya gambaran khayal tentang hiperbolisme sosok manusia sempurna. Sekilas tokoh dalam manga lebih menyerupai gambaran orang Eropa atau Amerika. Padahal, ternyata, konon, manga merupakan perwujudan hiperbolisme gambaran khayal orang Jepang yang sebenarnya pada umumnya bermata sipit, hidung relatif tidak mancung, dan badan pendek.
Mengapa manga mampu merebak sedemikian rupa? Banyak faktor penyebab, beberapa di antaranya adalah teknologi, budaya instan, dan kepentingan dagang. Teknologi multimedia yang notabene didominasi Jepang mampu mengangkat citra komik Jepang. Dengan kata lain, satu judul komik Jepang sering diiringi dengan dukungan film kartun dengan judul sama. Akan halnya filusufi budaya instan, hal ini sebenarnya entah kebetulan atau tidak sudah diwakili dengan sosok Nobita dan kantong ajaib Dora Emon. Semua serba ingin cepat, mudah, dan tidak memedulikan keterampilan proses. Manga pun demikian. Karakter maupun corak gambar manga relatif sama, karena sejak kecil pengarang hanya disuguhi gambar komik jenis manga, sehingga ketika menggambar komik juga akan meniru yang sudah ada. Padahal kalau tidak dicekoki gambar manga tersebut, mungkin anak tersebut dapat melukis dengan gaya orisinalnya yang jauh lebih dahsyat dibanding pengarang sebelumnya. Sedangkan dari sisi bisnis, jelas penerbit akan lebih memilih menerbitkan komik yang relatif tidak mengandung risiko rugi, yaitu komik terjemahan. Penerbit tinggal membeli hak terjemahan dan penerbitan karya yang sudah terkenal.
Ada memang beberapa pengarang Indonesia yang berani melawan monotonisme seni komik ini. Mereka menginginkan karya komik yang variatif dan orisinal, tidak hanya meniru model dan bentuk yang sudah ada. Tetapi perjuangan mereka sifatnya masih gerilya. Perlawanan model gerilya ini dimungkinkan karena kalau melawan secara frontal akan hancur dilumat selera bangsa Indonesia yang sudah terdoktrin kepada aliran manga. Selain itu, sungguh sangat sedikit penerbit yang mau menerbitkannya. Penerbit lebih suka mengimpor komik Jepang dan tidak menanggung risiko tidak laku. Perkara seni komik Indonesia tidak berkembang dan tidak variatif, itu buka urusan mereka.
Manga masuk dan mewabah di Indonesia awal 1990-an. Sebelumnya komik Indonesia tuan rumah di negara sendiri. Sebelum tahun 1990 komik yang tersedia di toko buku baru maupun loak dan persewaan buku mayoritas komik asli Indonesia dan sedikit komik Eropa dan Amerika Serikat. Komik Jepang tidak ada. Anak-anak, remaja, dan dewasa sangat akrab dengan tokoh-tokoh komik asli Indonesia.
Kurun sebelum 1990 komik Indonesia benar-benar merdeka. Merdeka dalam artian bebas dalam berkarya. Pembaca pun sangat senang menerima karya-karya mereka. Komik Indonesia pada zaman tersebut sangat variatif. Masing-masing pengarang memiliki ciri khas, baik dalam gaya cerita maupun gambar. Sebagai contoh, corak lukisan Ganes Th dibandingkan dengan Teguh Santosa maupun Hans Jaladara sangat berbeda. Demikian juga dengan gaya bercerita.
Sekadar penambah spirit berkesenian komik, berikut gambaran tentang sekelumit kilas balik seni perkomikan Indonesia.
- 1930-an
Kho Wan Gie (lahir 1908 - wafat Mei 1983) adalah seorang komikus generasi pertama Indonesia yang karyanya mulai diterbitkan pada tahun 1929. Nama "Put" untuk pertama kali terbit Januari 1931. Karya awalnya, strip komik berjudul "Si Put On" adalah salah satu komik pertama di Indonesia dan menjadi pelopor komik-komik humor di Indonesia. "Put On" bercerita tentang seorang pria bujangan gendut dari kelas menengah yang lugu dan konyol yang tinggal bersama ibunya ("Nek") dan dua adiknya, "Tong" dan "Peng". Kadang-kadang muncul pula teman baiknya, "A Liuk", "A Kong" (wakil dari kaum totok), "O Tek" (wakil dari Tionghoa Belanda). Meskipun kisah-kisah "Si Put On" menggambarkan suasana masyarakat peranakan Tionghoa di Jakarta, nama "Put On" sendiri diambil dari bahasa Inggris atas saran direktur Sin Po saat itu, Aung Jan Goan.
Komik ini terbit pertama kali pada tahun Agustus 1931 di harian Sin Po dan terus terbit selama 30 tahun meskipun sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang dari 1942 hingga 1946. "Si Put On" terakhir terbit dalam media majalah Pantjawarna dan Harian Warta Bhakti. Kedua penerbitan ini dikenal beraliran kiri. Sejak peristiwa G30S, kedua media itu berhenti terbit, dan "Si Put On" pun tenggelam bersamanya.
Setelah lama absen, Kho Wan Gie muncul lagi dengan menggunakan nama samaran "Sopoiku", yang artinya tidak lain "Siapa Itu". Dengan nama ini ia kembali menegaskan keberadaannya dalam dunia komik Indonesia.
Karyanya Sopoiku antara lain diberi judul dan seri "Nona A Go-Go", "Lemot dan Obud", "Agen Rahasia 013 (Bolong jilu)", "Dalip dan Dolop", "Djali Tokcer".
Kho Wan Gie pun tampil di Majalah Ria Film (dengan tokoh si Pengky), Varia Nada, dan Ria Remaja.
- 1940 – 1960-an
Sekitar akhir tahun 1940an, banyak komik Amerika yang disisipkan sebagai suplemen mingguan suratkabar. Di antaranya adalah komik seperti Tarzan, Rip Kirby, Phantom and Johnny Hazard. Kemudian penerbit seperti Gapura dan Keng Po dari Jakarta, dan Perfects dari Malang, mengumpulkannya menjadi sebuah buku komik. Di tengah-tengah membanjirnya komik-komik asing, hadir Siaw Tik Kwei, salah seorang komikus terdepan, yang memiliki teknik dan keterampilan tinggi dalam menggambar mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komik adapatasinya dari legenda pahlawan Tiongkok ‘Sie Djin Koei’. Komik ini berhasil melampaui popularitas Tarzan di kalangan pembaca lokal. Di awal tahun 1950-an, salah satu pionir komik bernama Abdulsalam menerbitkan komik strip heroiknya di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, salah satunya berjudul “Kisah Pendudukan Jogja”, bercerita tentang agresi militer Belanda ke atas kota Yogyakarta. Komik ini kemudian dibukukan oleh harian Pikiran Rakyat dari Bandung. Sebagian pengamat komik berpendapat bahwa inilah buku komik pertama-tama oleh artis komik Indonesia.
- 1960 – 1980-an
Adapatasi dari komik asing dalam komik Indonesia mendapatkan tentangan dan kritikan dari kalangan pendidik dan pengkritik budaya. Karena itu penerbit seperti Melodi dari Bandung dan Keng Po dari Jakarta mencari orientasi baru dengan melihat kembali kepada khazanah kebudayaan nasional. Sebagai hasil pencarian itu maka cerita-cerita yang diambil dari wayang Sunda dan Jawa menjadi tema-tema prioritas dalam penerbitan komik selanjutnya. R.A. Kosasih adalah salah seorang komikus yang terkenal keberhasilannya membawa epik Mahabharata dari wayang ke dalam media buku komik. Sementara itu dari Sumatra, terutamanya di kota Medan, terdapat pionir-pionir komikus berketerampilan tinggi seperto Taguan Hardjo, Djas, dan Zam Nuldyn, yang menyumbangkan estetika dan nilai filosofi ke dalam seni komik. Di bawah penerbitan Casso and Harris, artis-artis komik ini mengeksplorasi cerita rakyat Sumatra yang kemudian menjadi tema komik yang sangat digemari dari tahun 1960an hingga 1970an.
Banyak dipengaruhi komik-komik dengan gaya Amerika, Eropa, dan Tiongkok. Sebagian besar memanfaatkan majalah dan koran sebagai medianya, meskipun beberapa karya seperti Majapahit oleh R.A. Kosasih juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam bentuk buku.
Tema yang banyak muncul adalah silat, pewayangan, cinta, superhero, dan humor-kritik.
Zaman ini bisa disebut sebagai zaman keemasan komik Indonesia. Pada zaman ini muncul seniman komik yang benar-benar melegenda. Karya-karya mereka diburu kolektor meskipun harganya menjadi sangat mahal. Di antara dari mereka adalah Ganes Th, Hans Jaladara, Djair, Teguh Santosa, Jan Mintaraga, R.A. Kosasih, Hasmi, Wied NS, Gerdi WK, Delsy Syamsumar, Sim, dan Zaldy. Pada zaman ini pihak sekolah sering kerepotan karena siswa banyak yang membawa komik karya pengarang-pengarang tersebut ke sekolah (selain novel silat stensil karya Kho Ping Ho dari Yogyakarta), sehingga sering diadakan razia komik. Razia ini membuat komik menjadi karya seni yang cenderung dianggap negatif.
Berikut adalah sedikit gambaran tentang beberapa komikus dan karya mereka.
- Ganes Th.
Ganes Th. (1935-1995) adalah komikus Indonesia yang sangat terkenal. Ia merupakan salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia. Kisah dalam komik-komiknya begitu memikat hati pembaca komik Indonesia di era tahun 1970 sampai 1980-an. Murid dari Siaw Tik Kwie ini memiliki kelebihan dalam hal mengembangkan karakter tokoh, menjalin alur, menyuguhkan atmosfer kedaerahan, dan lukisannya memang bernilai seni tinggi.
Ganes Th. menciptakan tokoh Si Buta Dari Goa Hantu yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling popular sepanjang masa. Komik Si Buta Dari Goa Hantu adalah komik silat Indonesia pertama. Terbitan perdananya langsung meledak sehingga komik Indonesia seperti dilanda demam silat sehingga banyak komikus lain yang mengekor di belakang kesuksesan Si Buta Dari Goa Hantu. Kabarnya komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu eksemplar. Serial Si Buta dari Goa Hantu karya ciptaannya tidak akan pernah dilupakan orang. Petualangan Si Buta mulai dari Jawa Barat, Bali, Flores, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah menunjukkan pengetahuannya yang luas dan kecintaan kepada tanah air yang begitu dalam. Selain Si Buta dari Goa Hantu, judul komik lainnya yang juga sukses adalah Tuan Tanah Kedawung, Jampang, Taufan, dan Rio Anak Serigala (murid si Buta).
- Jan Mintaraga
Komikus yang paling western style. Memakai nama lengkap Jan Mintaraga. Coretannya selevel komikus-komikus kelas satu Amerika. Setiap frame dalam komiknya seperti sebuah suguhan karya seni lukis tersendiri. Kalau pada umumnya pengarang komik terfokus pada gambar tokohnya saja, Jan tidak demikian. Tata artistik dan seting di dalam masing-masing frame diperhatikan seksama dan digarap secara serius, misalnya ornamen, corak batik, dan ukiran pada pintu maupun pilar. Karya monumentalnya, Sebuah Noda Hitam. Komik ini lebih tepat disebut novel-komik karena bagusnya alur cerita dan gaya lukisnya yang sudah menggunakan teknik tingkat tinggi.
Salah satu gambaran tokoh komiknya yang sangat terkenal adalah sosok pemuda mengenakan jins, sepatu kets, menggelantung jaket di pundaknya dengan wajah yang kumuh bak Kota Jakarta. Itulah ciri khas goretan Jan Mintaraga dalam komik-komik "roman Jakarta"—demikianlah julukan "genre" komik karya Jan Mintaraga, Sim, dan Zaldy. "Dia mampu menangkap semangat zaman," tutur Seno Gumira Ajidarma.
Jan lahir di Yogyakarta pada 1942, belajar di bawah bimbingan komikus R.A. Kosasih dan Ardisoma. Dengan guru yang lebih dikenal sebagai komikus wayang, Jan malah lebih terkenal sebagai komikus roman remaja. Bahkan komiknya agak kebarat-baratan.
"Komik saya terilhami lagu-lagu Bob Dylan," tutur Jan mengakui. Ia selalu mengambil seting Kota Jakarta, metropolitan, kehidupan anak-anak orang kaya dengan segala problema cintanya. Tapi ia juga sempat membuat beberapa komik silat yang juga sukses seperti Indra Bayu, Runtuhnya Pualam Putih, Kelelawar, Puri Iblis, Runtuhnya Puri Iblis, Misteri Tertangkap Jin, Macan Putih, dan Sepasang Gelang Mustika. Tapi tokoh ciptaannya yang terkenal, Rio Purbaya, dalam Sebuah Noda Hitam, yang laris pada awal 1970-an. "Untuk Jakarta saja, menurut penerbitnya, terjual 20 ribu eksemplar dan menjadi box office," ujar Jan, yang pernah mengenyam bangku Seni Rupa ITB dan Insitut Seni Indonesia di Yogyakarta. Saking popularnya komik itu, aktor Roy Marten, yang pernah ngetop pada masa itu, mengaku terilhami tokoh Rio setelah melahap habis komik itu. Roy bahkan sampai berpenampilan sama dengan Rio, kemeja kotak-kotak biru, dan celana jeans belel.
Pada 1970-an, untuk komik setebal 48 halaman, honor Jan adalah Rp 200 ribu. Sebagai gambaran, harga emas waktu itu Rp 250 per gram, jadi bisa dibayangkan betapa jayanya kehidupan komikus yang sukses di zamannya.
Menjelang meninggal Jan Mintaraga masih bekerja di Dunia Fantasi, Ancol, memimpin pelukisan wahana Rama dan Shinta era futuristik.
- Hans Jaladara
Dalam diam, pendekar itu menyeret peti mati yang berisi jenazah seorang perempuan. Ia membawanya ke pusat keramaian maupun ke sudut-sudut sepi. Pendekar berbadan kurus itu bernama Panji Tengkorak. Siapa perempuan dalam peti itu? Dia adalah Mesia, istri yang tidak dicintainya. Panji menyeret peti itu karena sebuah ikatan janji. Naif? Absurd? Entah, tapi adegan tersebut mampu menggetarkan para pembaca komik Hans Jaladara.
Karakter Panji Tengkorak yang antihero tersebut, menurut Hans Jaladara—bernama asli Hans Riyanto—sebetulnya tampil justru "bukan dari segi keperkasaannya," ujar Hans. Bahkan, menurut Seno Gumira Ajidarma, sastrawan alumnus SMP 5 Yogyakarta yang mengaku penggemar berat Panji Tengkorak, ini bukanlah sebuah komik silat melainkan sebuah drama cinta yang tragis. Tak mengherankan bila dari satu jilid ke jilid yang lain, Panji digambarkan berhati lemah dan gampang jatuh ke dalam kendali tangan perempuan. Menurut Hans, yang lahir di Yogyakarta 62 tahun lalu, petualangan dan filusufi hidup Panji lahir dari perbincangan dengan teman-temannya. Selain Panji Tengkorak, dari tangan Hans juga muncul komik Belibis Putih, Walet Merah, Si Rase Terbang, dan Dian Boma, yang tak kalah populer.
Dunia komik memang sudah menarik minat Hans sejak kecil. Anak kedua dari tiga bersaudara putra Linggodito ini masih ingat dirinya melonjak kegirangan ketika diberi hadiah komik Jepang dan Amerika oleh sang ayah pada hari ulang tahunnya yang kedelapan. Sejak itu ia makin gemar corat-coret. Bahkan, satu hari ia pernah mengerjakan semua tugas menggambar temannya di sekolah sampai lupa menggambar untuk dirinya sendiri. Selanjutnya, ketika dewasa, untuk mengasah bakat seninya, Hans belajar di Sekolah Seni Rupa Nasional.
Pilihan Hans untuk menggeluti komik tak sia-sia. Selain ia beroleh penghasilan yang lumayan—setara dengan gaji pegawai negeri menengah—karya komiknya juga diangkat ke layar lebar. Walaupun tidak menjadi kaya, dari hasil tabungannya Hans mampu membeli mobil dan rumah dengan kredit. Pada 1979, Panji Tengkorak dihargai Rp 500 ribu oleh produser.
- R.A. Kosasih
Dari tangannya yang keriput, sejarah pewayangan bergerak dan menjadi gambar hidup. Hastinapura, Indraprasta, Dursasana yang durjana, Drupadi yang setia, Yudhistira yang sabar, Srikandi yang perkasa, dan nasib Bambang Ekalaya yang tragis. R.A. Kosasih, yang kini menginjak usianya yang ke-80 tahun, mungkin orang yang patut berbahagia di negeri ini. Sebab, melalui karya-karyanya ia bukan saja telah memperkenalkan wayang kepada masyarakat Indonesia—non-Jawa—tetapi ia juga telah memasyarakatkan tokoh-tokoh dalam kisah Mahabharata dan Ramayana. Tapi Kosasih adalah sebuah kesederhanaan. Dia pasti tak tahu bahwa pengagumnya berderet, mulai dari Sardono W. Kusumo, Arswendo Atmowiloto, Umar Kayam, Marsilam Simanjuntak, hingga kartunis G.M. Sudarta, dan juga ribuan atau mungkin jutaan pembaca komiknya di seantero Indonesia (Tempo, 21 Desember 1991).
Lahir di Desa Bondongan, Bogor, Jawa Barat, Kosasih adalah putra bungsu dari delapan bersaudara dari pasangan Raden Wiradikusuma. Diawali dari mengamati bungkusan sayur yang berisi potongan kartun Tarzan, Kosasih yang gemar nonton wayang golek itu sering mencoba melukis kartun, yang kemudian diberikan kepada tetangganya.
Tahun 1939 ia mulai melukis ilustrasi untuk buku-buku keluaran Departemen Pertanian Bogor. Debutnya sebagai pengarang komik dimulai pada 1953. Lulusan HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Pasundan itu memulai serial pertamanya Sri Asih, yang dicetak 3.000 eksemplar dan habis licin tandas. Setelah itu, Siti Gahara, Sri dewi, serial Mahabharata, Ramayana, dan... sejarah pun bergulir.
Kini, dalam usianya yang ke-90, jari-jarinya yang gemetar itu hanya sanggup memegang dan menikmati komik impor Jepang milik cucunya. Perjalanan usia—dan menurunnya produktivitas—membuat namanya meredup. Namun itu bukan satu-satunya sebab: komik Indonesia memang tidak terus-terusan berjaya. Kosasih mengaku, minat pembeli terhadap komik wayang mulai menurun selepas tahun 1980-an, bersamaan dengan banjirnya komik impor—Jepang terutama. Sejak 1993, Kosasih tak pernah lagi menyentuh pen dan tinta. Kini ia tinggal di kawasan Rempoa, Jakarta Selatan. Di lantai atas rumah itu, di sebuah ruang berukuran 5 x 20 meter, Kosasih dan istrinya menjalani hari-hari dengan tenang. Di sudut ruangan, ia menyimpan semua peralatan gambarnya dengan rapi untuk kenang-kenangan.
Untuk menunjang hidup, ia masih memperoleh royalti sekadarnya dari komik Mahabharata yang dicetak ulang penerbit Gramedia.
- Djair
Komikus ini tergolong komikus otodidak. Karyanya yang paling terkenal adalah Jaka Sembung, Djaka Gledek, Si Tolol, Kiamat Kandang Haur, Malaikat Bayangan, dan Toan Anak Jin. Ia sudah membuat komik sejak masih remaja. Padahal, dulu ayahnya menaruh harapan supaya Djair menjadi insinyur. "Waktu itu saya sering dimarahi Ayah karena lebih senang membuat komik daripada belajar. Akhirnya saya mencuri-curi kesempatan," tutur Djair. Ia menggemari karya-karya Ganes Th. (Si Buta dari Goa Hantu), Jan Mintaraga (Rio Purbaya), dan Hans Jaladara (Panji Tengkorak).
Mungkin karena itulah komik-komik Djair juga terpengaruh dari komikus yang dikaguminya; ia cenderung mengisahkan pengembaraan seorang pendekar dalam menegakkan kebenaran. Kisah pengembaraan para pendekar yang dianggap pahlawan itu lengkap dibumbui cerita kehidupan sehari-harinya, sehingga terasa membumi. Lihat saja Jaka Sembung. Berbeda dengan tokoh hero seperti Si Buta dari Goa Hantu atau Panji Tengkorak yang selalu berkawan dengan sunyi, Jaka Sembung justru digambarkan sebagai tokoh yang sudah berkeluarga. Atribut yang digunakan Jaka juga tidak seperti Si Buta, yang berpakaian kulit ular, melainkan baju biasa berlilit sarung. Begitu populernya hingga kisah Jaka Sembung itu sempat diangkat ke layar lebar dengan bintang Barry Prima.
Pada masa jayanya, penghasilan yang diperolehnya cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Maklum, untuk satu cerita—terdiri dari 7 sampai 10 jilid—ia memperoleh Rp 100 ribu, yang merupakan angka yang tinggi untuk ukuran tahun 1960-an. Sayang, zaman keemasannya sulit terulang. Ia bahkan pesimistis, komik Indonesia bakal bangkit kembali. Soalnya, "Sekarang sudah ada televisi, bioskop, mal, dan videogame. Anak-anak sudah terbiasa dicekoki komik terjemahan dari luar negeri," kata Djair.
Demikianlah sekelumit flashback kejayaan komik Indonesia. Kilas balik tersebut diharapkan dapat menggugah semangat berkesenian yang orisinal, seperti yang sekarang ditunjukkan oleh Ahmad Thoriq dengan Carok dan Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad dengan Benny and Mice. Atau mau ikut berjuang di bidang kesenian komik ala Apotik Komik atau Daging Tumbuh. Selamat berjuang di bidang kesenian!*** epeha
Belum.
Komik Indonesia masih di bawah cengkeram dominasi manga. Penjajahan manga ke dalam selera komik bangsa Indonesia sungguh sangat dahsyat. Kedahsyatan ini dikarenakan wabah manga terutama menyerang anak-anak dan remaja. Kalau sejak anak-anak sudah terdoktrin bahwa seni komik yang bagus itu adalah manga, maka sampai tua orang tersebut akan menganggap bahwa yang namanya komik itu adalah manga. Komik itu berarti gambar manusia yang matanya besar, bulu mata lentik, hidung mancung, pipi ranum, badannya tinggi, ramping, pakaian modis, dan kalau menangis air matanya seperti air terjun, Pokoknya gambaran khayal tentang hiperbolisme sosok manusia sempurna. Sekilas tokoh dalam manga lebih menyerupai gambaran orang Eropa atau Amerika. Padahal, ternyata, konon, manga merupakan perwujudan hiperbolisme gambaran khayal orang Jepang yang sebenarnya pada umumnya bermata sipit, hidung relatif tidak mancung, dan badan pendek.
Mengapa manga mampu merebak sedemikian rupa? Banyak faktor penyebab, beberapa di antaranya adalah teknologi, budaya instan, dan kepentingan dagang. Teknologi multimedia yang notabene didominasi Jepang mampu mengangkat citra komik Jepang. Dengan kata lain, satu judul komik Jepang sering diiringi dengan dukungan film kartun dengan judul sama. Akan halnya filusufi budaya instan, hal ini sebenarnya entah kebetulan atau tidak sudah diwakili dengan sosok Nobita dan kantong ajaib Dora Emon. Semua serba ingin cepat, mudah, dan tidak memedulikan keterampilan proses. Manga pun demikian. Karakter maupun corak gambar manga relatif sama, karena sejak kecil pengarang hanya disuguhi gambar komik jenis manga, sehingga ketika menggambar komik juga akan meniru yang sudah ada. Padahal kalau tidak dicekoki gambar manga tersebut, mungkin anak tersebut dapat melukis dengan gaya orisinalnya yang jauh lebih dahsyat dibanding pengarang sebelumnya. Sedangkan dari sisi bisnis, jelas penerbit akan lebih memilih menerbitkan komik yang relatif tidak mengandung risiko rugi, yaitu komik terjemahan. Penerbit tinggal membeli hak terjemahan dan penerbitan karya yang sudah terkenal.
Ada memang beberapa pengarang Indonesia yang berani melawan monotonisme seni komik ini. Mereka menginginkan karya komik yang variatif dan orisinal, tidak hanya meniru model dan bentuk yang sudah ada. Tetapi perjuangan mereka sifatnya masih gerilya. Perlawanan model gerilya ini dimungkinkan karena kalau melawan secara frontal akan hancur dilumat selera bangsa Indonesia yang sudah terdoktrin kepada aliran manga. Selain itu, sungguh sangat sedikit penerbit yang mau menerbitkannya. Penerbit lebih suka mengimpor komik Jepang dan tidak menanggung risiko tidak laku. Perkara seni komik Indonesia tidak berkembang dan tidak variatif, itu buka urusan mereka.
Manga masuk dan mewabah di Indonesia awal 1990-an. Sebelumnya komik Indonesia tuan rumah di negara sendiri. Sebelum tahun 1990 komik yang tersedia di toko buku baru maupun loak dan persewaan buku mayoritas komik asli Indonesia dan sedikit komik Eropa dan Amerika Serikat. Komik Jepang tidak ada. Anak-anak, remaja, dan dewasa sangat akrab dengan tokoh-tokoh komik asli Indonesia.
Kurun sebelum 1990 komik Indonesia benar-benar merdeka. Merdeka dalam artian bebas dalam berkarya. Pembaca pun sangat senang menerima karya-karya mereka. Komik Indonesia pada zaman tersebut sangat variatif. Masing-masing pengarang memiliki ciri khas, baik dalam gaya cerita maupun gambar. Sebagai contoh, corak lukisan Ganes Th dibandingkan dengan Teguh Santosa maupun Hans Jaladara sangat berbeda. Demikian juga dengan gaya bercerita.
Sekadar penambah spirit berkesenian komik, berikut gambaran tentang sekelumit kilas balik seni perkomikan Indonesia.
- 1930-an
Kho Wan Gie (lahir 1908 - wafat Mei 1983) adalah seorang komikus generasi pertama Indonesia yang karyanya mulai diterbitkan pada tahun 1929. Nama "Put" untuk pertama kali terbit Januari 1931. Karya awalnya, strip komik berjudul "Si Put On" adalah salah satu komik pertama di Indonesia dan menjadi pelopor komik-komik humor di Indonesia. "Put On" bercerita tentang seorang pria bujangan gendut dari kelas menengah yang lugu dan konyol yang tinggal bersama ibunya ("Nek") dan dua adiknya, "Tong" dan "Peng". Kadang-kadang muncul pula teman baiknya, "A Liuk", "A Kong" (wakil dari kaum totok), "O Tek" (wakil dari Tionghoa Belanda). Meskipun kisah-kisah "Si Put On" menggambarkan suasana masyarakat peranakan Tionghoa di Jakarta, nama "Put On" sendiri diambil dari bahasa Inggris atas saran direktur Sin Po saat itu, Aung Jan Goan.
Komik ini terbit pertama kali pada tahun Agustus 1931 di harian Sin Po dan terus terbit selama 30 tahun meskipun sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang dari 1942 hingga 1946. "Si Put On" terakhir terbit dalam media majalah Pantjawarna dan Harian Warta Bhakti. Kedua penerbitan ini dikenal beraliran kiri. Sejak peristiwa G30S, kedua media itu berhenti terbit, dan "Si Put On" pun tenggelam bersamanya.
Setelah lama absen, Kho Wan Gie muncul lagi dengan menggunakan nama samaran "Sopoiku", yang artinya tidak lain "Siapa Itu". Dengan nama ini ia kembali menegaskan keberadaannya dalam dunia komik Indonesia.
Karyanya Sopoiku antara lain diberi judul dan seri "Nona A Go-Go", "Lemot dan Obud", "Agen Rahasia 013 (Bolong jilu)", "Dalip dan Dolop", "Djali Tokcer".
Kho Wan Gie pun tampil di Majalah Ria Film (dengan tokoh si Pengky), Varia Nada, dan Ria Remaja.
- 1940 – 1960-an
Sekitar akhir tahun 1940an, banyak komik Amerika yang disisipkan sebagai suplemen mingguan suratkabar. Di antaranya adalah komik seperti Tarzan, Rip Kirby, Phantom and Johnny Hazard. Kemudian penerbit seperti Gapura dan Keng Po dari Jakarta, dan Perfects dari Malang, mengumpulkannya menjadi sebuah buku komik. Di tengah-tengah membanjirnya komik-komik asing, hadir Siaw Tik Kwei, salah seorang komikus terdepan, yang memiliki teknik dan keterampilan tinggi dalam menggambar mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komik adapatasinya dari legenda pahlawan Tiongkok ‘Sie Djin Koei’. Komik ini berhasil melampaui popularitas Tarzan di kalangan pembaca lokal. Di awal tahun 1950-an, salah satu pionir komik bernama Abdulsalam menerbitkan komik strip heroiknya di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, salah satunya berjudul “Kisah Pendudukan Jogja”, bercerita tentang agresi militer Belanda ke atas kota Yogyakarta. Komik ini kemudian dibukukan oleh harian Pikiran Rakyat dari Bandung. Sebagian pengamat komik berpendapat bahwa inilah buku komik pertama-tama oleh artis komik Indonesia.
- 1960 – 1980-an
Adapatasi dari komik asing dalam komik Indonesia mendapatkan tentangan dan kritikan dari kalangan pendidik dan pengkritik budaya. Karena itu penerbit seperti Melodi dari Bandung dan Keng Po dari Jakarta mencari orientasi baru dengan melihat kembali kepada khazanah kebudayaan nasional. Sebagai hasil pencarian itu maka cerita-cerita yang diambil dari wayang Sunda dan Jawa menjadi tema-tema prioritas dalam penerbitan komik selanjutnya. R.A. Kosasih adalah salah seorang komikus yang terkenal keberhasilannya membawa epik Mahabharata dari wayang ke dalam media buku komik. Sementara itu dari Sumatra, terutamanya di kota Medan, terdapat pionir-pionir komikus berketerampilan tinggi seperto Taguan Hardjo, Djas, dan Zam Nuldyn, yang menyumbangkan estetika dan nilai filosofi ke dalam seni komik. Di bawah penerbitan Casso and Harris, artis-artis komik ini mengeksplorasi cerita rakyat Sumatra yang kemudian menjadi tema komik yang sangat digemari dari tahun 1960an hingga 1970an.
Banyak dipengaruhi komik-komik dengan gaya Amerika, Eropa, dan Tiongkok. Sebagian besar memanfaatkan majalah dan koran sebagai medianya, meskipun beberapa karya seperti Majapahit oleh R.A. Kosasih juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam bentuk buku.
Tema yang banyak muncul adalah silat, pewayangan, cinta, superhero, dan humor-kritik.
Zaman ini bisa disebut sebagai zaman keemasan komik Indonesia. Pada zaman ini muncul seniman komik yang benar-benar melegenda. Karya-karya mereka diburu kolektor meskipun harganya menjadi sangat mahal. Di antara dari mereka adalah Ganes Th, Hans Jaladara, Djair, Teguh Santosa, Jan Mintaraga, R.A. Kosasih, Hasmi, Wied NS, Gerdi WK, Delsy Syamsumar, Sim, dan Zaldy. Pada zaman ini pihak sekolah sering kerepotan karena siswa banyak yang membawa komik karya pengarang-pengarang tersebut ke sekolah (selain novel silat stensil karya Kho Ping Ho dari Yogyakarta), sehingga sering diadakan razia komik. Razia ini membuat komik menjadi karya seni yang cenderung dianggap negatif.
Berikut adalah sedikit gambaran tentang beberapa komikus dan karya mereka.
- Ganes Th.
Ganes Th. (1935-1995) adalah komikus Indonesia yang sangat terkenal. Ia merupakan salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia. Kisah dalam komik-komiknya begitu memikat hati pembaca komik Indonesia di era tahun 1970 sampai 1980-an. Murid dari Siaw Tik Kwie ini memiliki kelebihan dalam hal mengembangkan karakter tokoh, menjalin alur, menyuguhkan atmosfer kedaerahan, dan lukisannya memang bernilai seni tinggi.
Ganes Th. menciptakan tokoh Si Buta Dari Goa Hantu yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling popular sepanjang masa. Komik Si Buta Dari Goa Hantu adalah komik silat Indonesia pertama. Terbitan perdananya langsung meledak sehingga komik Indonesia seperti dilanda demam silat sehingga banyak komikus lain yang mengekor di belakang kesuksesan Si Buta Dari Goa Hantu. Kabarnya komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu eksemplar. Serial Si Buta dari Goa Hantu karya ciptaannya tidak akan pernah dilupakan orang. Petualangan Si Buta mulai dari Jawa Barat, Bali, Flores, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah menunjukkan pengetahuannya yang luas dan kecintaan kepada tanah air yang begitu dalam. Selain Si Buta dari Goa Hantu, judul komik lainnya yang juga sukses adalah Tuan Tanah Kedawung, Jampang, Taufan, dan Rio Anak Serigala (murid si Buta).
- Jan Mintaraga
Komikus yang paling western style. Memakai nama lengkap Jan Mintaraga. Coretannya selevel komikus-komikus kelas satu Amerika. Setiap frame dalam komiknya seperti sebuah suguhan karya seni lukis tersendiri. Kalau pada umumnya pengarang komik terfokus pada gambar tokohnya saja, Jan tidak demikian. Tata artistik dan seting di dalam masing-masing frame diperhatikan seksama dan digarap secara serius, misalnya ornamen, corak batik, dan ukiran pada pintu maupun pilar. Karya monumentalnya, Sebuah Noda Hitam. Komik ini lebih tepat disebut novel-komik karena bagusnya alur cerita dan gaya lukisnya yang sudah menggunakan teknik tingkat tinggi.
Salah satu gambaran tokoh komiknya yang sangat terkenal adalah sosok pemuda mengenakan jins, sepatu kets, menggelantung jaket di pundaknya dengan wajah yang kumuh bak Kota Jakarta. Itulah ciri khas goretan Jan Mintaraga dalam komik-komik "roman Jakarta"—demikianlah julukan "genre" komik karya Jan Mintaraga, Sim, dan Zaldy. "Dia mampu menangkap semangat zaman," tutur Seno Gumira Ajidarma.
Jan lahir di Yogyakarta pada 1942, belajar di bawah bimbingan komikus R.A. Kosasih dan Ardisoma. Dengan guru yang lebih dikenal sebagai komikus wayang, Jan malah lebih terkenal sebagai komikus roman remaja. Bahkan komiknya agak kebarat-baratan.
"Komik saya terilhami lagu-lagu Bob Dylan," tutur Jan mengakui. Ia selalu mengambil seting Kota Jakarta, metropolitan, kehidupan anak-anak orang kaya dengan segala problema cintanya. Tapi ia juga sempat membuat beberapa komik silat yang juga sukses seperti Indra Bayu, Runtuhnya Pualam Putih, Kelelawar, Puri Iblis, Runtuhnya Puri Iblis, Misteri Tertangkap Jin, Macan Putih, dan Sepasang Gelang Mustika. Tapi tokoh ciptaannya yang terkenal, Rio Purbaya, dalam Sebuah Noda Hitam, yang laris pada awal 1970-an. "Untuk Jakarta saja, menurut penerbitnya, terjual 20 ribu eksemplar dan menjadi box office," ujar Jan, yang pernah mengenyam bangku Seni Rupa ITB dan Insitut Seni Indonesia di Yogyakarta. Saking popularnya komik itu, aktor Roy Marten, yang pernah ngetop pada masa itu, mengaku terilhami tokoh Rio setelah melahap habis komik itu. Roy bahkan sampai berpenampilan sama dengan Rio, kemeja kotak-kotak biru, dan celana jeans belel.
Pada 1970-an, untuk komik setebal 48 halaman, honor Jan adalah Rp 200 ribu. Sebagai gambaran, harga emas waktu itu Rp 250 per gram, jadi bisa dibayangkan betapa jayanya kehidupan komikus yang sukses di zamannya.
Menjelang meninggal Jan Mintaraga masih bekerja di Dunia Fantasi, Ancol, memimpin pelukisan wahana Rama dan Shinta era futuristik.
- Hans Jaladara
Dalam diam, pendekar itu menyeret peti mati yang berisi jenazah seorang perempuan. Ia membawanya ke pusat keramaian maupun ke sudut-sudut sepi. Pendekar berbadan kurus itu bernama Panji Tengkorak. Siapa perempuan dalam peti itu? Dia adalah Mesia, istri yang tidak dicintainya. Panji menyeret peti itu karena sebuah ikatan janji. Naif? Absurd? Entah, tapi adegan tersebut mampu menggetarkan para pembaca komik Hans Jaladara.
Karakter Panji Tengkorak yang antihero tersebut, menurut Hans Jaladara—bernama asli Hans Riyanto—sebetulnya tampil justru "bukan dari segi keperkasaannya," ujar Hans. Bahkan, menurut Seno Gumira Ajidarma, sastrawan alumnus SMP 5 Yogyakarta yang mengaku penggemar berat Panji Tengkorak, ini bukanlah sebuah komik silat melainkan sebuah drama cinta yang tragis. Tak mengherankan bila dari satu jilid ke jilid yang lain, Panji digambarkan berhati lemah dan gampang jatuh ke dalam kendali tangan perempuan. Menurut Hans, yang lahir di Yogyakarta 62 tahun lalu, petualangan dan filusufi hidup Panji lahir dari perbincangan dengan teman-temannya. Selain Panji Tengkorak, dari tangan Hans juga muncul komik Belibis Putih, Walet Merah, Si Rase Terbang, dan Dian Boma, yang tak kalah populer.
Dunia komik memang sudah menarik minat Hans sejak kecil. Anak kedua dari tiga bersaudara putra Linggodito ini masih ingat dirinya melonjak kegirangan ketika diberi hadiah komik Jepang dan Amerika oleh sang ayah pada hari ulang tahunnya yang kedelapan. Sejak itu ia makin gemar corat-coret. Bahkan, satu hari ia pernah mengerjakan semua tugas menggambar temannya di sekolah sampai lupa menggambar untuk dirinya sendiri. Selanjutnya, ketika dewasa, untuk mengasah bakat seninya, Hans belajar di Sekolah Seni Rupa Nasional.
Pilihan Hans untuk menggeluti komik tak sia-sia. Selain ia beroleh penghasilan yang lumayan—setara dengan gaji pegawai negeri menengah—karya komiknya juga diangkat ke layar lebar. Walaupun tidak menjadi kaya, dari hasil tabungannya Hans mampu membeli mobil dan rumah dengan kredit. Pada 1979, Panji Tengkorak dihargai Rp 500 ribu oleh produser.
- R.A. Kosasih
Dari tangannya yang keriput, sejarah pewayangan bergerak dan menjadi gambar hidup. Hastinapura, Indraprasta, Dursasana yang durjana, Drupadi yang setia, Yudhistira yang sabar, Srikandi yang perkasa, dan nasib Bambang Ekalaya yang tragis. R.A. Kosasih, yang kini menginjak usianya yang ke-80 tahun, mungkin orang yang patut berbahagia di negeri ini. Sebab, melalui karya-karyanya ia bukan saja telah memperkenalkan wayang kepada masyarakat Indonesia—non-Jawa—tetapi ia juga telah memasyarakatkan tokoh-tokoh dalam kisah Mahabharata dan Ramayana. Tapi Kosasih adalah sebuah kesederhanaan. Dia pasti tak tahu bahwa pengagumnya berderet, mulai dari Sardono W. Kusumo, Arswendo Atmowiloto, Umar Kayam, Marsilam Simanjuntak, hingga kartunis G.M. Sudarta, dan juga ribuan atau mungkin jutaan pembaca komiknya di seantero Indonesia (Tempo, 21 Desember 1991).
Lahir di Desa Bondongan, Bogor, Jawa Barat, Kosasih adalah putra bungsu dari delapan bersaudara dari pasangan Raden Wiradikusuma. Diawali dari mengamati bungkusan sayur yang berisi potongan kartun Tarzan, Kosasih yang gemar nonton wayang golek itu sering mencoba melukis kartun, yang kemudian diberikan kepada tetangganya.
Tahun 1939 ia mulai melukis ilustrasi untuk buku-buku keluaran Departemen Pertanian Bogor. Debutnya sebagai pengarang komik dimulai pada 1953. Lulusan HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Pasundan itu memulai serial pertamanya Sri Asih, yang dicetak 3.000 eksemplar dan habis licin tandas. Setelah itu, Siti Gahara, Sri dewi, serial Mahabharata, Ramayana, dan... sejarah pun bergulir.
Kini, dalam usianya yang ke-90, jari-jarinya yang gemetar itu hanya sanggup memegang dan menikmati komik impor Jepang milik cucunya. Perjalanan usia—dan menurunnya produktivitas—membuat namanya meredup. Namun itu bukan satu-satunya sebab: komik Indonesia memang tidak terus-terusan berjaya. Kosasih mengaku, minat pembeli terhadap komik wayang mulai menurun selepas tahun 1980-an, bersamaan dengan banjirnya komik impor—Jepang terutama. Sejak 1993, Kosasih tak pernah lagi menyentuh pen dan tinta. Kini ia tinggal di kawasan Rempoa, Jakarta Selatan. Di lantai atas rumah itu, di sebuah ruang berukuran 5 x 20 meter, Kosasih dan istrinya menjalani hari-hari dengan tenang. Di sudut ruangan, ia menyimpan semua peralatan gambarnya dengan rapi untuk kenang-kenangan.
Untuk menunjang hidup, ia masih memperoleh royalti sekadarnya dari komik Mahabharata yang dicetak ulang penerbit Gramedia.
- Djair
Komikus ini tergolong komikus otodidak. Karyanya yang paling terkenal adalah Jaka Sembung, Djaka Gledek, Si Tolol, Kiamat Kandang Haur, Malaikat Bayangan, dan Toan Anak Jin. Ia sudah membuat komik sejak masih remaja. Padahal, dulu ayahnya menaruh harapan supaya Djair menjadi insinyur. "Waktu itu saya sering dimarahi Ayah karena lebih senang membuat komik daripada belajar. Akhirnya saya mencuri-curi kesempatan," tutur Djair. Ia menggemari karya-karya Ganes Th. (Si Buta dari Goa Hantu), Jan Mintaraga (Rio Purbaya), dan Hans Jaladara (Panji Tengkorak).
Mungkin karena itulah komik-komik Djair juga terpengaruh dari komikus yang dikaguminya; ia cenderung mengisahkan pengembaraan seorang pendekar dalam menegakkan kebenaran. Kisah pengembaraan para pendekar yang dianggap pahlawan itu lengkap dibumbui cerita kehidupan sehari-harinya, sehingga terasa membumi. Lihat saja Jaka Sembung. Berbeda dengan tokoh hero seperti Si Buta dari Goa Hantu atau Panji Tengkorak yang selalu berkawan dengan sunyi, Jaka Sembung justru digambarkan sebagai tokoh yang sudah berkeluarga. Atribut yang digunakan Jaka juga tidak seperti Si Buta, yang berpakaian kulit ular, melainkan baju biasa berlilit sarung. Begitu populernya hingga kisah Jaka Sembung itu sempat diangkat ke layar lebar dengan bintang Barry Prima.
Pada masa jayanya, penghasilan yang diperolehnya cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Maklum, untuk satu cerita—terdiri dari 7 sampai 10 jilid—ia memperoleh Rp 100 ribu, yang merupakan angka yang tinggi untuk ukuran tahun 1960-an. Sayang, zaman keemasannya sulit terulang. Ia bahkan pesimistis, komik Indonesia bakal bangkit kembali. Soalnya, "Sekarang sudah ada televisi, bioskop, mal, dan videogame. Anak-anak sudah terbiasa dicekoki komik terjemahan dari luar negeri," kata Djair.
Demikianlah sekelumit flashback kejayaan komik Indonesia. Kilas balik tersebut diharapkan dapat menggugah semangat berkesenian yang orisinal, seperti yang sekarang ditunjukkan oleh Ahmad Thoriq dengan Carok dan Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad dengan Benny and Mice. Atau mau ikut berjuang di bidang kesenian komik ala Apotik Komik atau Daging Tumbuh. Selamat berjuang di bidang kesenian!*** epeha
Langganan:
Postingan (Atom)